Lebih Jaga Perasaan Orang dari pada Tuhan
Sebuah Renungan Motivasi Kristen
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita ditemukan dengan tindakan-tindakan yang seakan lebih memperhatikan perasaan manusia daripada mempersembahkan hati kita kepada Tuhan. Meskipun tampaknya hal ini mungkin bersifat alami dan bahkan terkadang dianggap sebagai bentuk kebaikan, namun adakah dasar Alkitab yang mendukung konsep "Lebih Jaga Perasaan Orang dari pada Tuhan"? Mari kita menjelajah lebih dalam ke dalam firman Tuhan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
Memahami Alkitab
Sebagai awal, mari kita memahami bahwa Alkitab mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan memperhatikan kebutuhan sesama. Kitab Matius 22:39 mengatakan:
"Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Ini adalah ajaran dasar Kristiani yang mengajarkan kita untuk peduli terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain. Namun, adakah hal ini berarti kita seharusnya lebih memperhatikan perasaan manusia daripada mempersembahkan cinta dan taat kepada Tuhan?
Sebuah perbandingan dapat kita temukan dalam Kitab Mazmur 51:17, di mana Daud menuliskan,
Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!
Dari ayat ini, kita memahami bahwa Tuhan menghargai korban hati yang tunduk dan penuh kasih, bukan sekadar tindakan luar yang dapat dilihat oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kehadiran kita yang tulus di hadapan Tuhan lebih penting daripada sekadar mencari persetujuan manusia.
Mengubah perspektif
Namun, bagaimana jika kita mengubah perspektif kita dan mencoba untuk lebih memperhatikan perasaan orang lain daripada Tuhan? Mari kita telaah implikasinya.
Memprioritaskan perasaan orang daripada Tuhan
Pertama-tama, seseorang yang lebih memprioritaskan perasaan orang daripada Tuhan cenderung hidup dalam ketakutan akan penilaian manusia. Mereka mungkin menjadi "manusia pleaser" yang selalu berusaha menyenangkan orang lain tanpa mempertimbangkan kebenaran dan kehendak Tuhan. Ironisnya, dalam usahanya untuk mencari persetujuan manusia, mereka mungkin malah kehilangan kedalaman hubungan mereka dengan Tuhan.
Hilangnya keberanian untuk memberikan teguran yang benar dan tulus
Efek lainnya adalah hilangnya keberanian untuk memberikan teguran yang benar dan tulus. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk saling menegur dengan kasih (Wahyu 3:19), namun orang yang lebih mementingkan perasaan manusia mungkin enggan memberikan teguran yang diperlukan karena takut akan reaksi negatif atau penolakan. Ini dapat menyebabkan pertumbuhan rohaniah yang terhambat dan terkadang membawa dampak yang merugikan dalam hubungan antar-sesama.
Seorang Kristen yang lebih mengutamakan perasaan manusia juga cenderung merasa terbebani oleh ekspektasi dunia, sehingga mengorbankan prinsip-prinsip moral dan kebenaran Firman Tuhan demi mendapatkan penerimaan sosial. Dalam kasus ini, kita bisa merenungkan kata-kata Paulus dalam Galatia 1:10, "Karena apakah aku mencari kerelaan manusia atau Allah? Atau apakah aku berusaha menyenangkan manusia? Jika aku masih menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."
Potensi mengalami kekecewaan
Dengan memperhatikan perasaan orang lebih dari Tuhan, seseorang juga berpotensi mengalami kekecewaan dan kehampaan. Manusia cenderung tidak sempurna dan dapat menghianati atau mengecewakan, tetapi Tuhan adalah sumber kebenaran dan kasih yang tak berkesudahan. Dаlаm Yohanes 14:27, Yеѕuѕ berkata, "Damai ѕеjаhtеrа Kutіnggаlkаn bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu; jаngаnlаh hаtіmu bеrѕеdіh dаn jаngаn gentar."
Mengenali bahwa Tuhan adalah sumber utama kebahagiaan dan pemenuhan dapat membantu kita melepaskan ketergantungan pada persetujuan manusia. Dalam Kolose 3:23-24, Paulus menegaskan,
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hati, sebagai untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sebab kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima upah sebagai pembalasan. Pada Kristus, Tuhanmu, kamu berbakti."
Menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala-galanya
Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk memahami bahwa memberikan perhatian pada perasaan manusia bukanlah hal yang buruk, selama itu sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan. Sebaliknya, kita perlu menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala-galanya, sehingga tindakan kita mencerminkan kasih dan ketaatan kepada-Nya.
Penutup
Sebagai penutup, marilah kita memahami bahwa menjaga perasaan orang lain adalah bagian penting dari kasih sesama, tetapi tidak boleh melebihi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan. Dalam upaya kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, mari kita selalu merenungkan firman Tuhan dan membiarkan-Nya memimpin hidup kita. Sebab, pada akhirnya, memuliakan Tuhan adalah panggilan utama kita, dan dalam ketaatan kepada-Nya, kita akan menemukan kedamaian dan pemenuhan yang sejati.
Refleksi :
Melalui renungan ini, kita diingatkan untuk tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan prioritas yang benar dalam hidup kita. Ayat Yohanes 12:42-43 menyoroti tantangan yang dihadapi oleh beberapa pemimpin agama pada masa itu. Meskipun mereka menyaksikan mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus, ketakutan akan kehilangan status atau pengaruh sosial menyebabkan mereka tidak berani mengakui Dia secara terbuka. Kita harus bersiap-siap untuk menghadapi situasi serupa dalam hidup kita, di mana ketakutan akan penilaian manusia mungkin menghambat kita untuk bersaksi dengan tegas tentang iman kita kepada Tuhan. Namun, dalam Yohanes 12:26, Yesus memberikan arahan yang menggugah hati kita untuk tidak hanya menjadi pengikut-Nya, tetapi juga menjadi hamba-Nya yang setia.
"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."
Pesan ini mengingatkan kita bahwa memilih untuk mengabdi kepada Tuhan membawa kehormatan yang jauh lebih besar daripada mendapatkan penghormatan manusia.